Thursday, August 15, 2013

Pemilik Keadilan Yang Tak Pernah Keliru dan Tak Pandang Bulu


Salah satu kalimat yang sering digaungkan oleh orang-orang yang mencalonkan diri menjadi anggota parlemen (legislatif, yudikatif, eksekutif) ketika berkampanye adalah berlaku adil kepada rakyatnya. Adil dalam mengambil tindakan, tidak pandang bulu dan lain sebagainya. Realitanya keadilan ini sudah menjadi satu hal yang lazim ada dalam visi misi mereka. Tapi sering sekali visi misi keadilan yang mereka gaungkan itu menjadi semacam suguhan untuk menyihir mata rakyatnya.

Bahkan ada sebagian dari mereka saat berkampanye mengatakan jika dia terpilih di pemilukada gajinya akan disalurkan kepada rakyat demi mensejahterakan mereka. Hampir semua calon berasumsi yang bahwa negeri tersebut hanya akan makmur dan tentram dengan terpilih dia sebagai presiden, gubernur, bupati dan lain sebagainya. Seakan-akan mereka lah yang memiliki keadilan. Tapi apa yang mereka gaungkan sering berkontradiksi dengan kanyataan.

Dari sisi lain, banyak kasus kriminal yang tidak diusut dan tidak dikenakan sanksi apa-apa jika yang pelakunya anggota keluarga ataupun orang yang terpandang serta memilki jabatan. Tapi jika giliran si miskin dan orang-orang yang tidak ada jabatan yang melakukan, jangankan kasus-kasus besar, kasus pencurian buah coklat pun disidangkan. Atau pun menghakimi orang-orang yang tidak salah, hanya karena berita atau isu provokasi mereka ditangkap, bahkan ada yang nyaris ditembak. Beginikah keadilan itu?

Di saat seperti ini kita sebagai masyarakat pasti mempunyai berbagai pertanyaan, siapakah pemilik keadilan itu?  Saya kah? Pemilik keadilan tidak lain, dialah yang mempunyai sifatA'dil dalam asma-Nya. Di alah pencipta semua hamba-hambanya yang adil, pemberi makan kepada yang lapar, dan yang memberi keamanan bagi orang yang ketakutan. Dia lah Allah SWT pemilik keadilan.

Salah satu tujuan diciptakan manusia adalah untuk beru'budiyah kepada Allah, menghambakan diri kepada-Nya. Artinya mengerjakan apa yang diperintah dan meninggalkan segala larangannya. Allah akan memberikan jazak (fahala) bagi mereka yang taat, dan akan memberi azab bagi mereka yang maksiat di padang mahsyar kelak. Lalu, apakah Allah akan keliru di saat mengazab atau memberi jazak kepada hambanya, sementara Allah satu (ahad) sedangkan hambanya cukup banyak. Apakah akan Keliru ketika menghakimi mereka? Tentu saja tidak keliru.

 Atas dasar apa anda mengatakan Allah SWT tidak keliru dalam menghakimi sementara hambanya cukup banyak.

1. Allah maha mengetahui atas segala perbuatan manusia, sebagaimana firmanNya.
"Barang siapa yang mengerjakan kebaikan seberat zarrah pun, niscaya dia akan melihat (balasan) nya" (QS - Az- zalzalah:7).

"Dan barang siapa yang mengerjakan kejahatan seberat zarrah pun, niscaya dia akan melihat (balasannya) pula" (QS - Az-Zalzalah:8).

2. Allah ketika menciptakan mahkluknya pasti telah menyediakan tugas-tugasnya. Semua tugas yang mereka lakukan semata-mata untuk beribadah kepadaNya. Tugas manusia adalaah beribadah kepada Allah dengan mengerjakan shalat yang di dalamnnya ada sujud, ruku' dan lain sebagainya. Ada juga sebagian malaikat yang ibadahnya sujud selalu, ada juga yang ruku' selalu, dan ada juga yang tugasnya menjaga A'rasy.

Setiap perbuatan yang kita kerjakan selalu ada yang mencatatnya, pencatat amalan kita adalah malaikat Atid dan Raqib. Mereka juga menjalankan tugasnya sebagai ciptaan Allah. Pada hari di mana kita di sidang nantinya, buku catatan mereka nantinya akan menjadi referensi terhadap segala amal perbuatan kita di dunia.

3. Namun jika kita juga masih enggan menerima itu sebagian dari tanda keadilan Allah di hari persidangan nanti. Mari kita lihat apa yang diceritakan Allah.

"Pada hari ini kami tutup mulut mereka; dan berkatalah kepada kami tangan mereka dan memberi kesaksianlah kaki mereka terhadap apa yang dahulu mereka usahakan" (QS-Yasin:65).

Lihatlah! tangan-tangan kita akan berkata-kata sedangkan mulut kita dikunci. Tangan tidak akan menyembunyikan atas apa yang pernah dilakukan oleh anggota tubuh. Begitu juga kaki, dia akan bersaksi atas apa yang pernah kita lakukan. Maka tidak ada yang keliru terhadap apa yang akan disidangkan. Semuanya ada bukti yang sangat konkrit.

4. Lalu para Rasul-Rasul juga tidak akan diam, Allah akan menciptakan bagi mereka pemahaman yang akan mengetahui apa yang dilakukan oleh ummatnya. Mereka akan membenarkan apa yang diselewengkan pada hari itu, apa yang pernah mereka sampaikan kepada ummatnya akan dikatakan dan apa yang tidak disampaikan sedangkan kita mengada-ngada pun akan dikatakan oleh Rasulullah.

Inilah sebagian dari tanda-tanda yang sudah diceritakan Alquran sebagai masdarul hayah bagi kita ummat Islam. Tidak ada satu perbuatan maupun perkataan melainkan ada catatannya dalam buku malaikat Raqib dan Atid. Yang kedua-duanya tidak pernah keliru dan terprovokasi oleh satu media pu seperti layaknya manusia. Semoga bermanfaat.


EmoticonEmoticon