Sunday, June 30, 2013

Hukum Nikah Dengan Niat Cerai

Oleh: Saief Alemdar
Pengertian Nikah dengan niat cerai:

Seorang laki-laki menikahi seorang wanita dengan syarat dan rukun yang telah ditentukan Agama, hanya saja si laki-laki menyembunyikan niat dalam hatinya bahwa dia akan menceraikan wanita itu, baik wanita mengetahui niat itu atau tidak.[1]

Beberapa sebab tumbuhnya pernikahan ini:

    Sebagian mahasiswa yang belajar di Negara Barat dengan pergaulan bebas, yang takut terjerumus dalam jurang perzinahan, akhirnya mereka menikahi salah satu warga negari tersebut, tetapi dalam hatinya dia berniat untuk menceraikan wanita itu setelah selesai studinya.[2]
    Demikian juga sebagian pengusaha yang sering bepergian ke luar negeri, terkadang mereka menetap beberapa waktu, tetapi tidak memungkinkan untuk membawa keluarga. Daripada dia “jajan”, akhirnya dia memilih menikah seperti ini.
    Sebagian orang ingin memiliki kewarganegaraaan tertentu, karena sebab-sebab tertentu, tetapi Negara tersebut mensyaratkan bahwa orang tersebut harus memiliki istri berkewarganegaraan itu selama 5 tahun, misalnya, akhirnya dia menikahi seorang wanita dari Negara itu hanya untuk mendapatkan kewarganegaraan baru.
    Seperti halnya kejadian baru, yang sering terjadi, khususnya pelancong dari Negara teluk, yang sering ke Puncak pada masa liburan dan menikah disana, setelah liburan habis, wanita ditinggal dengan cerai atau tidak dicerai, meninggalkan derita dan nestapa bagi wanita-wanita malang itu.

Perbandingan antara nikah ini dengan beberapa nikah lain:

    Perbandingan antara nikah dengan niat cerai dengan nikah untuk waktu tertentu “kontrak”.[3]

Nikah dengan waktu tertentu adalah pernikahan antara laki-laki dengan wanita yang disaksikan oleh 2 saksi, sampai waktu tertentu. Antara dua nikah di atas memiliki kesamaan bahwa semuanya memenuhi syarat, ada saksi dan dilakukan dengan aqad nikah.

Tetapi, antara dua nikah itu terjadi perbedaan dalam waktu, nikah dengan niat cerai tidak menyebut waktu tertentu, hanya disembunyikan dalam hati, baik diketahui oleh wanita atau tidak. Sedangkan dalam nikah “kontrak“ laki-laki menyebutkan waktu secara jelas pada saat aqad.

Begitu juga dengan hukumnya, Ulama sepakat bahwa nikah kontrak haram hukumnya, dan tidak sah. Adapun hukum nikah dengan niat cerai akan kita bahas di pembahasan selanjutnya.[4]

    Perbandingan antara nikah ini dengan nikah Mut’ah.

Sebelumnya, saya akan memberikan definisi Nikah Mut’ah: Pernikahan dengan waktu tertentu, baik waktunya disebut atau tidak, paling lama 45 hari, pernikahan tersebut berakhir dengan berakhirnya waktu bagi wanita yang sudah menopause, atau dengan 2 kali haid bagi wanita yang masih subur, atau 4 bulan tambah 10 hari bagi yang ditinggal mati suami. Efek hukumnya, tidak dikewajibakan mahar  kecuali yang disebut dalam perjanjian, tidak diwajibkan nafkah dan hak waris, tidak ada iddah setelahnya kecuali istibra (kepastian bahwa wanita tidak hamil), tidak ditetapkan nasab bagi laki-laki apabila wanita itu hamil kecuali kalau disebut dalam perjanjian, dan haram setelah itu dijadikan menantu[5].

Perbandingan antara dua nikah diatas sebagai berikut:

-          Lafaz Aqad: dalam nikah mut’ah, lafaz aqad disebut dengan lafaz “tamattu” atau yang berarti sama dengan tamattu’.[6] Sedangkan dalam nikah dengan niat cerai, lafaz aqadnya adalah lafaz nikah.

-          Penentuan Waktu: dalam nikah mut’ah waktunya telah ditentukan, meskipun tidak disebut, dan paling lama 45 hari. Sedangkan dalam nikah niat cerai tidak ada penentuan waktu. Hanya niat saja dalam hati.

-          Saksi: dalam nikah mut’ah tidak ada saksi, sedangkan dalam nikah dengan niat cerai ada saksi.

-          Berakhirnya Pernikahan: nikah mut’ah berakhir dengan berakhirnya waktu, sedangkan nikah dengan niat cerai hanya akan berakhir dengan talak, khulu’ atau faskh.[7]

-          Konsewensi Pernikahan: Iddah dalam nikah mut’ah, wanita yang sudah menopause tidak ada iddah, bagi yang masih subur iddahnya 2 kali haid, demikian juga tidak ada hak waris dalam nikah mut’ah. Sedangkan dalam nikah dengan niat cerai konsekwensinya sama seperti pernikahan syar’i biasa.[8]

Bentuk kasus pernikahan dengan niat cerai yang sering terjadi:

    Sebelum aqad nikah, seorang laki-laki menyembunyikan dalam hatinya niat untuk menceraikan istrinya setelah menikah, tanpa ada seorangpun yang tahu, dan tidak ada tanda-tandanya yang menunjukkan itu.
    Sebelum aqad nikah, seorang laki-laki berniat dalam hatinya untuk menceraikan istrinya setelah menikah, dan memberi tanda-tanda niatnya itu kepada calon istri secara samar-samar.
    Setelah aqad nikah, laki-laki itu meniatkan dalam hatinya untuk menceraikan istrinya, tapi tidak memberi tahukan istri tentang hal itu.
    Setelah aqad nikah, laki-laki itu meniatkan dalam hatinya untuk menceraikan istrinya, dia juga memberi tahukan istrinya tentang niatnya itu, tetapi secara samar-samar.
    Adanya kesepakatan antara laki-laki dengan wanita atau laki-laki dengan wali wanita, bahwa laki-laki itu akan menceraikan istrinya setelah waktu tertentu, dan perjanjian ini disebutkan dalam aqad.

Analisa untuk setiap kasus:

    Niat yang disembunyikan suami untuk menceraikan istrinya, tidak berefek pada sah atau tidak sahnya pernikahan, niat yang disembunyikan itu tidak dianggap cerai. Jadi, kasus 3 dan 4 sudah jelas. Bahwa nikahnya tidak ada masalah.
    Kasus nomor 1 dan 2 memiliki kesamaan, yaitu sebelum terjadinya aqad nikah, si laki-laki sudah berniat menceraikan istrinya suatu saat setelah nikah, baik itu diketahui oleh wanita atau tidak.
    Kasus nomor 5, adanya perjanjian antara 2 pihak untuk bercerai setelah waktu tertentu.

Untuk kasus nomor 1 dan 2, ulama fiqh klasik berbeda pendapat:

    Mayoritas ulama Hanafi, Maliki, dan Hambali sepakat bahwa apabila seorang laki-laki menikah dengan niat akan mencerai istrinya suatu saat nanti, baik wanita mengetahui atau tidak, maka nikahnya sah.[9]
    Imam Auzai, mengatakan bahwa nikah seperti ini tidak sah.[10]
    Ulama Mazhab Syafii mengatakan bahwa hukum nikah dengan niat cerai sebelum aqad adalah makruh.[11]

Pernikahan seperti ini ada positif ada juga negatifnya, diantara segi positifnya secara hukum yaitu bisa menjaga terjerumusnya dalam jurang perzinahan, seperti kasusnya mahasiswa dan saudagar tadi. Tetapi, efek negatifnya juga nggak ketulungan.

-          Penipuan dan penghianatan: seorang wanita ingin masuk dalam dunia pernikahan untuk medapat kebahagiaan dan ketenangan dan juga perlindungan dari suami, ternyata “tak kusangka, tak kuduga, dikau memutuskan hubungan kita, apa salahku???”.

-          Apabila hal ini dibudidayakan, maka akan hilang rasa saling percaya dalam masyarakat.

-          Ini akan menjadi boomerang bagi umat Islam dalam dunia dakwah.

-          Kasus ini akan menjadi saran menzalimi wanita, akan banyak hak-hak wanita yang hilang, apalagi kalua sampai hamil karena pernikahan seperti ini, bukan saja si wanita, tetapi si anak juga jadi korban.

Oleh karena itu, selayaknya kasus seperti ini harus diperangi dalam masyarakat, bukan dari sisi prosesi akad nikah, karena dari prosesinya tidak ada alasan untuk mengatakan nikah ini tidak sah, tetapi dari efek ke depan yang terjadi, kerusakan yang diakibatkan oleh nikah dengan cara ini.

Menurut saya, apabila diketahui galagat bahwa laki-laki itu memang punya niat menceraikan istrinya setelah menikah, sebaiknya pernikahan itu dibatalkan, bersandarkan pada sumber hukum “maslahat mursalah” dan “sad zarai”. tetapi, kalau tidak ada gelagat dan tanda-tanda bahwa dia akan menceraikan, maka tidak ada masalah, karena itu niat yang tersembunyi dalam hati. Siapapun bisa melakukan cerai setelah menikah.

Diantara Ulama Kontemporer yang membolehkan nikah dengan niat cerai adalah Syeikh Aly Tantowy, mantan Hakim Agung di Damascus, dalam Fatwa beliau. Dan yang mengharamkan adalah syeikh Rasyid Ridho dan syeikh Muhammad Shaleh bin Utsaimin.[12]

Kasus nomor 5 bisa kita sebut kasus nikah dengan syarat cerai. Ada beberapa pendapat Ulama Fiwh dalam hal ini,:

-          Ulama Maliki, Syafii dan Hambali mengatakan bahwa nikah dengan syart cerai tidak sah.[13]

-          Ulama Hanafi dan sebagian ulama mazhab Syafii mengatakan bahwa nikah itu sah, tetapi syaratnya batal. Artinya aqad nikah sah, dan suami tidak terikat dengan syarat, syarat itu dianggap tidak ada.[14]

Sepertinya, pendapat yang melarang lebih bisa diambil. Tetapi, apabila dua anak muda saling mencintai, tetapi orangtua mereka member syaratseperti itu, maka boleh saja mereka menikah dengan syarat cerai, nikahnya sah, cerainya tidak harus. Wallahu a’lam.







[1] . Lihat: Imam Hattab, Taj wal Iklil, hal 85, jilid 5. Imam Dardir,Syarh Shaghir, hal 248, jilid 2.



[2] . Lihat: Tantowy, Fatwa Tantowy, hal 143.



[3] . Mayoritas Ulama menyamakan antara nikah kontrak dengan nikah mut’ah, tetapi Ulama Mazhab Hanafi membedakan dua jenis nikah ini, saya memilih metode yang dipakai Hanafi dalam membuat perbandingan ini. Pemakaian istilah “kawin kontrak” harap hati-hati, saya tidak tahu apakah kawin kontrak yang dipraktekkan di Indonesia sama seperti definisi kwain kontrak yang saya sebut, agar tidak terjadi generalisir dalam hukum.



[4] . Taj Iklil, 5/85. Imam Shawy, Hasyiah, 2/248.



[5] . Imam San’any, Subulus Salam, 3/277, Cet. Dar Shader, Beirut.



[6] . mut’ah atau tamattu’ artinya bersenang-senang.



[7]. Faskh artinya pengakhiran hubungan pernikahan oleh Pengadilan karena sebab tertentu, Khulu’ adalah gugatan cerai yang diajukan istri dengan membayar kepada suami.



[8] . Ibid.



[9] . Lihat: Imam Ibn Abidin, Hasyiah, 3/52. Imam Dardir, Syarh Kabir, 2/378. Imam Ibn Qudamah, Mughni, 10/48.



[10] . Lihat: Imam Bahuty, Syrh Muntaha Iradat, 5/188.



[11] .Lihat: Imam Syrbiny, Mughni Muhtaj, 3/243.



[12] . Lihat:Asyqar, Mustajiddat Fiqhiyyat, hal 223.



[13] . Lihat: Imam Bajy, Muntaqa Syarh Muwatta, 3/335. Syrabini, Mughni Muhtaj, 3/243. Ibnu Qudamah, Mughni, 10/49.



[14] . Lihat: Imam Cassany, Badai Shanai, 2/558. Imam Sherazy, Muhazzab, 17/240.



1 comments


EmoticonEmoticon