Sunday, September 13, 2015

Resensi Buku "Agar Menuntut Ilmu jadi Mudah"


Oleh: Ameer Hamzah  (Aktivis TV Aceh).
Read More

Tuesday, October 29, 2013

Benarkah Islam Memotivasi Pemeluknya Hidup Miskin?

Read More

Wednesday, September 18, 2013

Diri Ku

Oleh: Muliyadi Yadi

Read More

Thursday, August 15, 2013

Benarkah Aisyah Menikah Dengan Rasulullah Pada Usia 9 Tahun?

Kita selama ini mendapatkan informasi bahwa Rasulullah SAW telah melamar Aisyah RA ketika berumur 6 tahun dan berumah tangga ketika berusia 9 tahun.
Selama ini pula, kaum orientalis dan kafir pembenci Islam kerap mengolok Nabi Muhammad seorang pedofilia karena mengawini Aisyah, bocah perempuan berusia sembilan tahun. Namun, ejekan itu kini terbantahkan.
Menjawab pertanyaan benar atau tidak masalah ini, melalui studi kritis terhadap hadits, Maulana Habibur Rahman Siddiqui Al-Kandahlawi menemukan informasi baru. Dalam bukunya Umur Aisyah, menegaskan Rasulullah SAW berumah tangga dengan Aisyah Ra saat Aisyah Ra berusia 19 tahun.
Jadi, bagaimana cerita runutnya?!
Maulana Habibur Rahman Siddiqui Al-Kandahlawi adalah seorang ahli hadits dari India. Ia lahir tahun 1924 M, putera ulama hadits terkenal Mufti Isyfaq Rahman. Ayahnya ini pernah jadi mufti besar Bhopal India.
Adapun yang menjadi dasar kesimpulan tersebut adalah riwayat yang menunjukkan beda usia Aisyah r.a dengan kakaknya Asma, sekitar 10 tahun. Riwayat ini ada di kitab Siyar A’lamal Nubala karangan Al Zahabi. Sedangkan Asma meninggal di usia 100 tahun pada tahun 73 H (diriwayatkan Ibnu Kathir dan Ibnu Hajar). Artinya, Asma lahir tahun 27 Sebelum Hijrah dan Aisyah lahir tahun 17 Sebelum Hijrah.
Sementara itu, para ahli sejarah sepakat bahwa pernikahan Rasulullah SAW dengan Aisyah ra, terjadi pada sekitar tahun 2 H. Berarti Aisyah ra berumah tangga dengan Rasulullah SAW pada usia 19 tahun.
Mudah-mudahan dengan berita ini, tidak ada lagi berita-berita miring yang dialamatkan kepada Rasulullah SAW atas pernikahannya dengan Siti Aisyah. Kalau umur 19 tahun di masa itu, sepertinya sudah layak dianggap dewasa. Secara emosional dan psikologis, umur 19 tahun juga sudah bukan umur anak-anak lagi.
Catatan : Sebagai tambahan dalil…
1. Siti Aisyah Ra. berkata :
“Saya seorang gadis muda (jariyah dalam bahasa arab)” ketika Surah Al-Qamar diturunkan (Sahih Bukhari, kitabu’l-tafsir, Bab Qaulihi Bal al-sa`atu Maw`iduhum wa’l-sa`atu adha’ wa amarr)…
Untuk dipahami, gadis muda (jariah), adalah mereka yang telah berusia antara 6-13 tahun.
Jika Surat al Qamar, diturunkan pada tahun ke 8 (delapan) sebelum hijriyah (The Bounteous Koran, M.M. Khatib, 1985), berarti usia Aisyah ra. saat menikah antara 16-23 tahun…
Syekh Muhammad Sayyid At-Thanthawy berpendapat, Surat al Qamar diturunkan pada tahun ke 5 (lima) sebelum hijriah. Jikapun pendapat ini, kita jadikan patokan (dasar), maka akan diperoleh keterangan usia Aisyah ra. saat beliau menikah, antara 13-20 tahun.
2. Berdasarkan Sirah An-Nabawiyah (Ibnu Hisyam, 1/245-262.), dakwah secara siriyyah, yang dilakukan Rasulullah sekitar kurang lebih 3 tahun dan sampai orang Islam berjumlah 40 orang. Sejarah mencatat, Aisyah Ra. adalah orang ke-19 yang menerima Islam, ini berarti beliau masuk Islam pada masa dakwah disampaikan secara siriyyah (sembunyi-sembunyi).
Jika Aisyah Ra. pada tahun 2H saat ia menikah, baru berumur 9 tahun. Maka di masa dakwah secara siriyyah, berdasarkan perhitungan tahun, kemungkinan beliau belum lahir. Bagaimana anak yang belum lahir, bisa bersyahadat ?
3. Mari kita pahami hadits berikut :
Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Bukair telah menceritakan kepada kami Al Laits dari ‘Uqail berkata, Ibnu Syihab maka dia mengabarkan keada saya ‘Urwah bin Az Zubair bahwa ‘Aisyah radliallahu ‘anha isteri Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berkata; “Aku belum lagi baligh ketika bapakku sudah memeluk Islam”. 
Dan berkata, Abu Shalih telah menceritakan kepada saya ‘Abdullah dari Yunus dari Az Zuhriy berkata, telah mengabarkan kepada saya ‘Urwah bin Az Zubair bahwa ‘Aisyah radliallahu ‘anha berkata; “Aku belum lagi baligh ketika bapakku sudah memeluk Islam dan tidak berlalu satu haripun melainkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam datang menemui kami di sepanjang hari baik pagi ataupun petang. Ketika Kaum Muslimin mendapat ujian, Abu Bakar keluar berhijrah menuju Habasyah (Ethiopia) hingga ketika sampai di Barkal Ghomad dia didatangi oleh Ibnu Ad-Daghinah seorang kepala suku seraya berkata; “Kamu hendak kemana, wahai Abu Bakar?” Maka Abu Bakar menjawab: “Kaumku telah mengusirku maka aku ingin keliling dunia agar aku bisa beribadah kepada Tuhanku”. 
Ibnu Ad-Daghinah berkata: “Seharusnya orang seperti anda tidak patut keluar dan tidap patut pula diusir karena anda termasuk orang yang bekerja untuk mereka yang tidak berpunya, menyambung silaturahim, menanggung orang-orang yang lemah, menjamu tamu dan selalu menolong di jalan kebenaran. Maka aku akan menjadi pelindung anda untuk itu kembalilah dan sembahlah Tuhanmu di negeri kelahiranmu. 
Maka Ibnu Ad-Daghinah bersiap-siap dan kembali bersama Abu Bakar lalu berjalan di hadapan Kafir Quraisy seraya berkata, kepada mereka: “Sesungguhnya orang sepeti Abu Bakar tidak patut keluar dan tidak patut pula diusir. Apakah kalian mengusir orang yang suka bekerja untuk mereka yang tidak berpunya, menyambung silaturahim, menanggung orang-orang yang lemah, menjamu tamu dan selalu menolong di jalan kebenaran?” 
Akhirnya orang-orang Quraisy menerima perlindungan Ibnu Ad-Daghinah dan mereka memberikan keamanan kepada Abu Bakar lalu berkata, kepada Ibnu Ad-Daghinah:“Perintahkanlah Abu Bakar agar beribadah menyembah Tuhannya di rumahnya saja dan shalat serta membaca Al Qur’an sesukanya dan dia jangan mengganggu kami dengan kegiatannya itu dan jangan mengeraskannya karena kami telah khawatir akan menimbulkan fitnah terhadap anak-anak dan isteri-isteri kami”. Maka Ibnu Ad-Daghinah menyampaikan hal ini kepada Abu Bakar. Maka Abu Bakar mulai beribadah di rumahnya dan tidak mengeraskan shalat bacaan Al Qur’an diluar rumahnya.
Kemudian Abu Bakar membangun tempat shalat di halaman rumahnya sedikit melebar keluar dimana dia shalat disana dan membaca Al Qur’an. Lalu istrei-isteri dan anak-anak Kaum Musyrikin berkumpul disana dengan penuh keheranan dan menanti selesainya Abu Bakar beribadah. Dan sebagaimana diketahui Abu Bakar adalah seorang yang suka menangis yang tidak sanggup menahan air matanya ketika membaca Al Qur’an.
Maka kemudian kagetlah para pembesar Quraisy dari kalangan Musyrikin yang akhirnya mereka memanggil Ibnu Ad-Daghinah ke hadapan mereka dan berkata, kepadanya: “Sesungguhnya kami telah memberikan perlindungan kepada Abu Bakr agar dia mberibadah di rumahnya namun dia melanggar hal tersebut dengan membangun tempat shalat di halaman rumahnya serta mengeraskan shalat dan bacaan padahal kami khawatir hal itu akan dapat mempengaruhi isteri-isteri dan anak-anak kami dan ternyata benar-benar terjadi. Jika dia suka untuk tetap beribadah di rumahnya silakan namun jika dia menolak dan tetap menampakkan ibadahnya itu mintalah kepadanya agar dia mengembalikan perlindungan anda karena kami tidak suka bila kamu melanggar perjanjian dan kami tidak setuju bersepakat dengan Abu Bakar”. 
Berkata, ‘Aisyah radliallahu ‘anha: Maka Ibnu Ad-Daghinah menemui Abu Bakar dan berkata:“Kamu telah mengetahui perjanjian yang kamu buat, maka apakah kamu tetap memeliharanya atau mengembalikan perlindunganku kepadaku karena aku tidak suka bila orang-orang Arab mendengar bahwa aku telah melanggar perjanjian hanya karena seseorang yang telah aku berjanji kepadanya”. Maka Abu Bakar berkata: “Aku kembalikan jaminanmu kepadamu dan aku ridho hanya dengan perlindungan Allah dan RasulNya shallallahu ‘alaihi wasallam. Kejadian ini adalah di Makkah. 
Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sungguh aku telah ditampakkan negeri tempat hijrah kalian dan aku melihat negeri yang subur ditumbuhi dengan pepohonan kurma diantara dua bukit yang kokoh. Maka berhijrahlah orang yang berhijrah menuju Madinah ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menyebutkan hal itu. Dan kembali pula berdatangan ke Madinah sebagian dari mereka yang pernah hijrah ke Habasyah sementara Abu Bakar telah bersiap-siap pula untuk berhijrah.
Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata, kepadanya: “Janganlah kamu tergesa-gesa karena aku berharap aku akan diizinkan (untuk berhijrah) “. Abu Bakar berkata: “Sungguh demi bapakku tanggungannya, apakah benar Tuan mengharapkan itu?” Beliau bersabda: “Ya benar”.Maka Abu Bakar berharap dalam dirinya bahwa dia benar-benar dapat mendampingi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam berhijrah. Maka dia memberi makan dua hewan tunggangan yang dimilikinya dengan dedaunan Samur selama empat bulan.
sumber : Hadits Bukhari No.2134
Dilansir Bikyamasr.com, Sabtu (8/12), Ulama Pakistan, Hakim Niyaz Ahmad, dalam bukunya terbarunya Kebenaran Usia Aisyah, juga menegaskan hal yang sama bahwa Aisyah telah berumur 19 tahun ketika menikah dengan Rasulullah.
“Kebanyakan sumber, terutama Abu Naim al-Isfahani, mengatakan Asma 27 tahun ketika pindah ke Madinah. Artinya, Aisyah saat itu setidaknya berusia 17 tahun,” tulis Hakim Niyaz, Sabtu (8/12).
Asma merupakan kakak dari Aisyah. Fakta ini sekaligus menggugurkan hadis-hadis yang menyebut Aisyah menikah dengan Nabi Muhammad ketika berusia 9 tahun, seperti diriwayatkan Hisyam Urwa.
Menurut Ulama Pakistan ini, penuturan Hisyam tidak bisa lagi dipercaya karena ketika itu dia sudah berusia 84 tahun. Kebanyakan dari sumber hadis Hisyam sudah meninggal sehingga sulit buat membuktikan ucapannya itu.
Dari hasil penelusuran pelbagai dokumen agama dan sejarah, Hakim menyimpulkan Aisyah memang sudah menginjak usia siap menikah. Dia menjelaskan sebelum menikah dengan nabi, Aisyah sudah bertunangan dengan Jubair bin Mutam. Keluarga calon mempelai lelaki itu kemudian tidak terima setelah calon menantu mereka masuk Islam (mualaf).
Sang ayah, Abu Bakar, lantas berunding dengan keluarga Jubair. Dia ingin memutus ikatan pertunangan antara Aisyah Ra dan Jubair. Perundingan berjalan baik, Aisyah dan Jubair putus hubungan. Selepas itu, baru Nabi Muhammad melamar Aisyah.
Cobalah perhatikan tulisan yang dicetak tebal, pada hadits shahih di atas:
  • ‘Aisyah radliallahu‘anha berkata; “Aku belum lagi baligh ketika bapakku sudah memeluk Islam…
Hal ini bermakna ketika Abu Bakar ra. masuk Islam, Aisyah ra. sudah lahir. Berdasarkan catatan sejarah, Abu Bakar ra. masuk Islam pada tahun-1 Kenabian (tahun ke-10 Sebelum Hijriah).
Dan jika pada saat itu Aisyah ra. baru berusia 7-8 tahun, maka saat beliau berumah tangga dengan Rasulullah, Maka Aisyah ra. telah berusia 19-20 tahun.
Sumber: http://www.atjehcyber.net/2012/12/membantah-tuduhan-rasulullah-seorang.html#
Read More

Pemilik Keadilan Yang Tak Pernah Keliru dan Tak Pandang Bulu


Salah satu kalimat yang sering digaungkan oleh orang-orang yang mencalonkan diri menjadi anggota parlemen (legislatif, yudikatif, eksekutif) ketika berkampanye adalah berlaku adil kepada rakyatnya. Adil dalam mengambil tindakan, tidak pandang bulu dan lain sebagainya. Realitanya keadilan ini sudah menjadi satu hal yang lazim ada dalam visi misi mereka. Tapi sering sekali visi misi keadilan yang mereka gaungkan itu menjadi semacam suguhan untuk menyihir mata rakyatnya.

Bahkan ada sebagian dari mereka saat berkampanye mengatakan jika dia terpilih di pemilukada gajinya akan disalurkan kepada rakyat demi mensejahterakan mereka. Hampir semua calon berasumsi yang bahwa negeri tersebut hanya akan makmur dan tentram dengan terpilih dia sebagai presiden, gubernur, bupati dan lain sebagainya. Seakan-akan mereka lah yang memiliki keadilan. Tapi apa yang mereka gaungkan sering berkontradiksi dengan kanyataan.

Dari sisi lain, banyak kasus kriminal yang tidak diusut dan tidak dikenakan sanksi apa-apa jika yang pelakunya anggota keluarga ataupun orang yang terpandang serta memilki jabatan. Tapi jika giliran si miskin dan orang-orang yang tidak ada jabatan yang melakukan, jangankan kasus-kasus besar, kasus pencurian buah coklat pun disidangkan. Atau pun menghakimi orang-orang yang tidak salah, hanya karena berita atau isu provokasi mereka ditangkap, bahkan ada yang nyaris ditembak. Beginikah keadilan itu?

Di saat seperti ini kita sebagai masyarakat pasti mempunyai berbagai pertanyaan, siapakah pemilik keadilan itu?  Saya kah? Pemilik keadilan tidak lain, dialah yang mempunyai sifatA'dil dalam asma-Nya. Di alah pencipta semua hamba-hambanya yang adil, pemberi makan kepada yang lapar, dan yang memberi keamanan bagi orang yang ketakutan. Dia lah Allah SWT pemilik keadilan.

Salah satu tujuan diciptakan manusia adalah untuk beru'budiyah kepada Allah, menghambakan diri kepada-Nya. Artinya mengerjakan apa yang diperintah dan meninggalkan segala larangannya. Allah akan memberikan jazak (fahala) bagi mereka yang taat, dan akan memberi azab bagi mereka yang maksiat di padang mahsyar kelak. Lalu, apakah Allah akan keliru di saat mengazab atau memberi jazak kepada hambanya, sementara Allah satu (ahad) sedangkan hambanya cukup banyak. Apakah akan Keliru ketika menghakimi mereka? Tentu saja tidak keliru.

 Atas dasar apa anda mengatakan Allah SWT tidak keliru dalam menghakimi sementara hambanya cukup banyak.

1. Allah maha mengetahui atas segala perbuatan manusia, sebagaimana firmanNya.
"Barang siapa yang mengerjakan kebaikan seberat zarrah pun, niscaya dia akan melihat (balasan) nya" (QS - Az- zalzalah:7).

"Dan barang siapa yang mengerjakan kejahatan seberat zarrah pun, niscaya dia akan melihat (balasannya) pula" (QS - Az-Zalzalah:8).

2. Allah ketika menciptakan mahkluknya pasti telah menyediakan tugas-tugasnya. Semua tugas yang mereka lakukan semata-mata untuk beribadah kepadaNya. Tugas manusia adalaah beribadah kepada Allah dengan mengerjakan shalat yang di dalamnnya ada sujud, ruku' dan lain sebagainya. Ada juga sebagian malaikat yang ibadahnya sujud selalu, ada juga yang ruku' selalu, dan ada juga yang tugasnya menjaga A'rasy.

Setiap perbuatan yang kita kerjakan selalu ada yang mencatatnya, pencatat amalan kita adalah malaikat Atid dan Raqib. Mereka juga menjalankan tugasnya sebagai ciptaan Allah. Pada hari di mana kita di sidang nantinya, buku catatan mereka nantinya akan menjadi referensi terhadap segala amal perbuatan kita di dunia.

3. Namun jika kita juga masih enggan menerima itu sebagian dari tanda keadilan Allah di hari persidangan nanti. Mari kita lihat apa yang diceritakan Allah.

"Pada hari ini kami tutup mulut mereka; dan berkatalah kepada kami tangan mereka dan memberi kesaksianlah kaki mereka terhadap apa yang dahulu mereka usahakan" (QS-Yasin:65).

Lihatlah! tangan-tangan kita akan berkata-kata sedangkan mulut kita dikunci. Tangan tidak akan menyembunyikan atas apa yang pernah dilakukan oleh anggota tubuh. Begitu juga kaki, dia akan bersaksi atas apa yang pernah kita lakukan. Maka tidak ada yang keliru terhadap apa yang akan disidangkan. Semuanya ada bukti yang sangat konkrit.

4. Lalu para Rasul-Rasul juga tidak akan diam, Allah akan menciptakan bagi mereka pemahaman yang akan mengetahui apa yang dilakukan oleh ummatnya. Mereka akan membenarkan apa yang diselewengkan pada hari itu, apa yang pernah mereka sampaikan kepada ummatnya akan dikatakan dan apa yang tidak disampaikan sedangkan kita mengada-ngada pun akan dikatakan oleh Rasulullah.

Inilah sebagian dari tanda-tanda yang sudah diceritakan Alquran sebagai masdarul hayah bagi kita ummat Islam. Tidak ada satu perbuatan maupun perkataan melainkan ada catatannya dalam buku malaikat Raqib dan Atid. Yang kedua-duanya tidak pernah keliru dan terprovokasi oleh satu media pu seperti layaknya manusia. Semoga bermanfaat.

Read More

Pengaruh Aliran Modern Terhadap Penulisan Sirah

Pada abad ke 19 M dalam tradisi penulisan sejarah muncul berbagai macam aliran, di antaranya 'aliran individualis.' Aliran individualis dalam penulisan sejarah berarti menulis sejarah menggunakan tendensi pribadi. Aliran ini mendapat perhatian banyak sejarawan untuk diterapkan dalam penulisan sejarah, hatta dalam penulisan sirah Rasulullah pun digunakan aliran individualis ini.


Menurut mereka tidak mengapa sejarawan memasukkan tendensi pribadi, idiologi, keyakinan agama, atau pandangan politik dalam menginterpretasi berbagai peristiwa sejarah. Bahkan penganut 'aliran individualis' ini berpendapat, interpretasi subjektif seperti itu justru wajib dilakukan setiap sejarawan. Artinya sejarawan itu tidak hanya berperan sebagai penutur atau pengumpul catatan tentang peristiwa sejarah, tapi penilai terhadap sejarah yang ditemukan.

Di era keilmuan seperti sekarang ini, aliran individualis ini semakin banyak pengikutnya. Ini merupakan satu hal yang patut kita sesalkan. Karena pada kenyataannya aliran inilah yang akan mengoyak-ngoyak fakta sejarah yang telah lama berada dalam kuil suci dan kokoh di sepanjang peradaban manusia.

Aliran individualis ini akan mengotori fakta sejarah dengan khayalan, ambisi subjektif, dan fanatisme individu. Jika aliran ini kita biarkan begitu saja, maka akan banyak fakta sejarah yang rusak dan tereduksi.  Tokoh-tokoh mulia dalam sejarah akan dinistakan, dan orang-orang yang tulus akan didhalimi oleh aliran sesat ini.


Lalu apakah aliran individualis ini dapat mempengaruhi penulisan sirah? Literatur sejarah menyebutkan, aliran baru ini ternyata sudah dijadikan dasar oleh sebagian orang dalam berbagai macam studi historis terhadap sirah Rasulullah SAW. Nah, bagaimana pada dasarnya aliran ini bisa muncul dan bagaimana perkembangannya?

Berbicara tentang sejarah munculnya aliran individualis tidak bisa dipisahkan dengan penduduk inggris yang mendiami negeri Mesir abad 19. Kita mengetahui yang bahwa saat itu Mesir menjadi wajah terdepan bagi dunia Islam, baik dalam bidang pemikiran maupun intelektualitas. Ummat Islam kala itu selalu berkiblat kepada Mesir sebagaimana menghadap kiblat tatkala melaksanakan shalat.

Dunia Islam yang terus menggeliat telah membuat penjajah Inggris tak tenang. Meskipun dataran Mesir yang begitu subur sudah dikuasai oleh penjajah Inggris, yang namun bangsa Inggris yang berdomisili di Mesir tak pernah meresa aman saat itu. Islam di Mesir makin terus bergelora di bawah kawasan Al-Azhar sebagai kiblat ilmu agama.

Oleh karena Al-Azhar mempunyai pengaruh besar terhadap Islam di Mesir kala itu, kolonialis inggris memiliki dua opsi untuk meruntuhkan Al-Azhar. Pertama memutuskan hubungan Al-Azhar dengan ummat Islam, dan yang kedua melakukan infiltrasi dan penyusupan ke dalam pusat kepemimpinan Al-Azhar. Harapan mereka Al-Azhar ini harus dipimpin oleh orang-orang yang se ide dengan penjajah. Yang pada akhirnya nanti akan memberi kenyamanan bagi bangsa Inggris yang sedang berdomisili di Mesir.

Ternyata Inggris lebih memilih opsi ke dua. Opsi kedua ini memang pilihan yang mungkin bisa diambil karena lebih mudah dan luput dari perhatian ummat islam. salah satu jalan yang mereka tempuh untuk melakukan ilfiltrasi terhadap kepemimpinan Al-Azhar saat itu adalah menyerang titik lemah ummat Islam, baik yang ada di Mesir maupun di luar Mesir.

Titik lemah dimaksud adalah perasaan kalah yang diindap ummat Islam ketika menyaksikan barat mengalami banyak kemajuan di bidang pemikiran, keilmuan dan peradaban. Lewat ilfiltrasi halus inilah kemudian  pemikiran penjajah disusupkan ke dalam dada sebagian pemikir Islam di Mesir. Sehingga mereka menyakini yang bahwa barat tidak akan terbebas dari belunggu dan maju sedemikian rupa melainkan sesudah menundukkan agama di bawah ilmu pengetahuan.

Oleh karena itu, jika dunia Islam ingin mendapat kebebasan seperti barat, tidak ada cara lain bagi mereka kecuali dengan mengikuti jalan yang ditempuh barat. Dari sinilah mereka memahami Islam seperti barat memahami Kristen. Kesemuaan itu tidak akan terwujud, kecuali ajaran Islam dibebaskan dari semua unsur ngaib yang tidak dapat dipahami atau ditakar oleh ilmu pengetahuan modern.

Dalam waktu singkat bisikan penjajah Inggris itu pun diamini oleh orang-orang yang pandangannya silau dengan kemajuan yang ada di Eropa saat itu. Sementara iman yang ada di dalam dada mereka telah musnah karena pengetahuan modern telah membutakan akal pikiran mereka. Mereka inilah yang kemudian menyerukan kebebasan ummat Islam dari hal ngaib yang tidak masuk akal dan tidak dapat dibuktikan sejarah empiris dengan ilmu modern.

Selanjutnya mereka mengampanyekan sebuah gerakan penting yang disebut dengan reformasi agama. Gerakan ini mengejewantahkan dari berbagai hal, mulai dari peninjauan kembali penulisan sirah Nabi dan pemahamannya hingga penggunaan metode baru dalam melihat sirah Rasulullah. Yang kemudian mereka menyingkirkan semua perkara a'di alami yang dianggap tidak masuk akal dan tidak dapat diterima oleh pengetahuan modern.

Tidak lama kemudian muncullah buku-buku mereka tentang sirah Rasulullah yang tidak lagi menggunakan riwayat, sanad, dan prinsip periwayatan hadist sebagai alat pengukur kebenaran. Semua itu mereka tukar dengan metode individualis berdasarkan hasrat pribadi dan berbagai metodologi hina yang dibangun atas tendensi dan aliran yang dianut oleh sipenulis.

Dengan aliran individualis tersebut mereka menyingkir berbagai macam hal yang mereka anggap tidak masuk akal, seperti mukjizat, dan kejadian luar biasa lainnya yang dialami Rasulullah SAW. Mereka hanya mencitrakan Rasulullah sebagai sosok pemimpin jenius, hebat, heroik. Tapi hal-hal yang berkaitan dengan kenabian, wahyu dan misi kerasulan yang menjadi inti utama dalam membentuk kepribadian Muhammad mereka buang.

Dr Muhammad Saied Ramadhan Buthi dalam fiqih sirahnya menyebutkan, sebagai contoh karya mereka adalah buku Hayat Muhammad  yang ditulis oleh Husen Haikal.  Buku ini adalah contoh paling konkret tentang penulisan sirah Nabi dengan menggunakan aliran individualis. Dengan bangga Husen Haikal berkata,"Saya tidak menggunakan apa yang ditulis oleh ulama-ulama dalam kitab sirah dan hadist, karena saya lebih memilih untuk melakukan penelitian sirah ini berdasarkan metode ilmiah."

Contoh lain adalah tulisan artikel yang dirilis oleh Muhammad Farid Wajdi dalam jurnal Nur Al- Islam dengan judul  Al-Sirah Al-Muhammadyyah Tahta Adh- Dhau' Al-'Ilm Wa Al-Falsafah. Di dalam  artikel tersebut terdapat kalimat yang berbunyi," Para pembaca rupanya dapat memaklumi bahwa dalam penulisan sirah ini, kami tidak akan menganggap kejadian luar biasa sebagai mukjizat selama kejadian itu masih bisa dianggap sebagai sesuatu yang biasa meskipun sedikit rumit."

Kita sering menemukan bahwa mereka memuji kepribadian Nabi Muhammad SAW., mereka mengagungkan karakter beliau yang luhur. Tapi semua itu ditulis tanpa mengingatkan pembaca akan peran kenabian atau wahyu di dalam kehidupan Rasulullah. Mereka sama sekali tidak menulis sanad riwayat yang sebenarnya cukup vital untuk menyakini sebuah peristiwa yang benar-benar terjadi.

Pada akhirnya hampir semua kejadian luar biasa yang dipaparkan secara mutawatir dalm kitab-kitab hadist bahkan disampaikan pula di dalam Alquran mereka mentakwilkannya dengan suka hati. Sebagai contoh mereka menakwilkan serangan burung ababil ke atas Raja Abrahah ketika mengahancurkan ka'bah sebagai wabah cacar. Menakwilkan peristiwa isra' sebagai perjalanan roh Muhammad ke alam mimpi. Padahal ke dua kejadian ini secara eksplisit disebutkan dalam Alquran.

Begitulah metode sesat yang biasanya secara khusus digunakan untuk mereinterpretasi sirah Nabi dan secara umum diterapkan dalam penulisan ulang sejarah Islam. Motode ini merupakan racun berbahaya yang sudah memanipulasi fakta sejarah, tapi di sebagian orang Islam tidak menyadarinya. Namun, di kalangan kaum munafik dan para pengkhianat, metode ini dengan bangga terus dikampayekan.

Mereka juga tidak menyadari di balik metode yang mereka terapkan dengan menyingkirkan perkara-perkara ngaib yang tidak masuk akal akan menghancurkan agama yang sedang mereka peluk. Karena wahyu ilahi yang menjadi mata air Agama Islam pada tingkat tertentu dapat dianggap juga satu hal tidak masuk akal karena berasal dari tuhan yang ngaib.

Cepat atau lambat mereka akan dengan berani menolak wahyu Allah, karena surga, neraka, hari kebangkitan, dan berbagai hal a'di alami lainnya mereka anggap tidak masuk akal karena tidak dapat diterima oleh ilmu pengetahuan modern. Semoga aliran individualis ini akan lenyap dengan kekuasaan Allah dan kita doakan kepada penganut aliran ini dari ummat Islam terbuka hatinya untuk menerima kebenaran. Semoga!

Read More

Friday, August 9, 2013

Takbir Hari Raya

Takbir di hari raya merupakan sebuah pertanda kemenangan bagi orang yang berpuasa. Di sunatkan takbir, baik takbir hari iedul fitri maupun iedul adha di rumah-rumah, Masjid, jalan, pasar dengan suara yang keras bagi selain orang yang berhaji. Hal ini berdasarkan firman Allah SWT:


ولتكملوا العدة ولتكبروا الله على ماهداكم ولعلكم تشكرون (سورة البقرة: 180).

Artinya: "Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjukNya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur."

Berkata para ulama, mekanisme takbir seperti ini hanya dikhususkan pada iedul fitri saja, kemudian dianalogikan (qiyas) juga kepada iedul adha.

Disunatkan pada hari raya iedul adha untuk bertakbir sesudah selesai shalat subuh hari arafah hingga sesudah shalat asar akhir hari tasyrik bagi seluruh ummat Islam baik yang berhaji atau tidak.

Adapun pada hari raya iedul fitri disunatkan takbir malam hari raya sampai dengan takbir ihram imam pada shalat ied besok pagi. Dan tidak disunatkan takbir iedul fitri setiap sesudah selesai shalat maktubah, berbeda halnya dengan iedul adha. Hal ini berdasarkan hadist Rasulullah SAW dan atas dasar kebiasaan Rasulullah.

عن على وعمار رضى الله عنهما: أن النبي صلى الله عليه وسلم كان يكبر يوم عرفة, صلاة الغداة, ويقطعها صلاة العصر اخر أيام التشريك (رواه الحاكم).

Artinya: "Dari Ali dan Ammar ra berkata, bahwasanya Rasululla SAW bertakbir mulai dari shalat subuh hari arafah sampai dengan shalat asar akhir hari tasyrik."

Lafaz Takbir Yang Dianjurkan

الله أكبر, الله أكبر, الله أكبر, لاإله إلاالله, الله أكبر, الله أكبر, ولله الحمد

Read More